Surat dari Pusara Bung Karno: Negeri Kaya yang Kerap Kehilangan Amanah

- Penulis

Senin, 22 Juni 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

PROFIL. Dr. Miftahol Arifin berpose usai wisuda doktoral, simbol dedikasi dalam menempuh pendidikan dan pengabdian. (Istimewa/Redaksi/Warta9)

PROFIL. Dr. Miftahol Arifin berpose usai wisuda doktoral, simbol dedikasi dalam menempuh pendidikan dan pengabdian. (Istimewa/Redaksi/Warta9)

OPINI | (WARTA9)Assalāmu’alaikum, Bung Karno…

Izinkan aku datang menziarahimu hari ini. Namun maaf, aku tidak membawa setangkai bunga atau karangan doa yang indah. Aku datang dengan membawa beban yang lebih berat: kegelisahan rakyat yang semakin menumpuk dari hari ke hari.

Aku hanyalah seorang pengasuh pesantren di sudut negeri. Setiap hari telingaku akrab dengan keluhan para petani yang hasil panennya tak sebanding dengan biaya produksi, rintihan nelayan yang semakin sulit menaklukkan kerasnya hidup, keluh kesah buruh yang upahnya selalu tertinggal dari laju kebutuhan, hingga doa lirih para ibu yang berusaha menyulap keterbatasan agar dapur tetap mengepul.

Bung Karno, kami sering mendengar bahwa Indonesia adalah negeri yang kaya raya. Tanahnya subur, lautnya luas, dan sumber dayanya melimpah.

Namun ada pertanyaan yang terus berputar di benak rakyat kecil: jika negeri ini begitu kaya, mengapa begitu banyak warganya yang harus belajar hidup dalam kekurangan?

Hari-hari ini harga kebutuhan pokok terus merangkak naik. Beras, minyak goreng, listrik, biaya pendidikan, hingga ongkos berobat seolah berlomba meninggalkan kemampuan rakyat untuk menjangkaunya.

Yang bertambah bukan hanya angka pada label harga, tetapi juga kecemasan di wajah-wajah sederhana yang harus memikirkan hari esok.

Di sisi lain, pajak dan berbagai pungutan terasa semakin dekat dengan kehidupan masyarakat. Hampir setiap langkah ekonomi memiliki biaya yang harus dibayar.

Pelaku usaha kecil bergulat dengan aturan yang kian rumit, sementara mereka yang memiliki kekuatan dan modal sering kali tampak lebih mudah menemukan celah untuk menghindari beban yang sama.

Tentang keadilan, rakyat pun mulai bertanya-tanya. Ia seolah hadir sebagai konsep yang indah dalam pidato, tetapi tak selalu mudah ditemukan dalam kenyataan.

Hukum kadang tampak begitu tegas kepada mereka yang lemah, namun menjadi lunak ketika berhadapan dengan kekuasaan dan kemapanan.

Bung Karno…

Dulu engkau pernah berkata, “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, perjuangan kalian lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.”

Kini, semakin banyak rakyat yang mulai memahami kedalaman makna kalimat itu. Sebab tantangan bangsa ini bukan lagi penjajahan dalam bentuk fisik, melainkan berbagai praktik yang perlahan menggerogoti cita-cita kemerdekaan dari dalam.

Korupsi, misalnya, seakan tak pernah benar-benar mati. Ia hanya berganti rupa, berganti istilah, dan berganti pelaku. Dari waktu ke waktu, ia tetap menemukan jalan untuk menguras hak rakyat dan melemahkan kepercayaan terhadap negara.

Sementara itu, jutaan anak muda berjuang mencari pekerjaan dan masa depan yang layak. Mereka mengirim lamaran ke berbagai tempat, berharap ada kesempatan yang membuka jalan hidup mereka.

Namun pada saat yang sama, ruang publik justru sering dipenuhi pertarungan elite yang lebih sibuk memperebutkan posisi, pengaruh, dan kekuasaan.

Yang dicari rakyat sesungguhnya sederhana: kehidupan yang layak, pendidikan yang baik, pekerjaan yang tersedia, dan keadilan yang dapat dirasakan.

Tetapi yang sering menjadi pusat perhatian para elite justru perebutan kursi dan kepentingan politik yang tak berkesudahan.

Aku datang ke pusaramu bukan untuk menghasut siapa pun. Aku juga tidak datang untuk menebar pesimisme.

Aku hanya ingin menyampaikan amanat yang selama ini berputar di tengah masyarakat. Sebab rakyat mulai lelah berteriak, sementara suaranya kerap tenggelam di antara riuhnya kepentingan.

Bung Karno…

Jika sejarah masih mendengar namamu, sampaikanlah satu pesan kepada generasi pemimpin hari ini: bahwa bangsa ini membutuhkan lebih banyak pemimpin yang mencintai rakyat daripada mencintai kekuasaan.

Pemimpin yang melihat jabatan sebagai amanah, bukan sebagai alat untuk mempertahankan privilese.

Namun kami sadar, jawaban atas semua persoalan bangsa tidak akan datang dari pusara para pendiri negeri.

Jawaban itu harus lahir dari hati yang jujur, dari keberanian untuk berlaku adil, dari integritas para penyelenggara negara, dan dari kesadaran bahwa kekuasaan pada akhirnya akan dimintai pertanggungjawaban.

Karena itu, dari pusaramu kami pulang membawa satu pelajaran yang sederhana namun penting: Indonesia tidak pernah kekurangan sumber daya, tidak pernah kekurangan orang pintar, bahkan tidak pernah kekurangan potensi. Yang sering kali kurang adalah amanah dalam mengelolanya.

Semoga Allah SWT menjaga negeri ini dari tangan-tangan yang mengkhianati kepercayaan rakyat. Semoga lahir pemimpin-pemimpin yang adil dan berpihak kepada kepentingan bangsa. Semoga rakyat diberi kesabaran dan kekuatan menghadapi berbagai ujian.

Dan semoga Indonesia benar-benar menjadi rumah bersama yang menghadirkan kesejahteraan, keadilan, dan kemuliaan bagi seluruh anak bangsanya.

Wallāhu a’lam bish-shawāb.***

Penulis: Abuya Dr. Miftahol Arifin Al-Bahreshy (Pengasuh Pondok Pesantren Studi Islam Futuhul Arifin Desa Tlontoraja, Pasean Pamekasan)

Facebook Comments Box

Penulis : Achmad Suhalis

Editor : Miftahol Hendra Efendi

Sumber Berita: Redaksi Warta9

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel www.warta9.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Senin, 22 Juni 2026 - 13:18 WIB

Surat dari Pusara Bung Karno: Negeri Kaya yang Kerap Kehilangan Amanah

Berita Terbaru