SUMENEP (WARTA9) — KKN Posko 30 Dusun Tanodung, Kecamatan Guluk-Guluk, Kabupaten Sumenep, Madura, mengajak para santri mengenal sekaligus mempraktikkan pengolahan tanaman herbal melalui kegiatan HerbalCraft.
Dalam kegiatan tersebut, para santri diajak mengolah kunyit menjadi jamu kunyit instan. Menariknya, ampas kunyit yang tersisa setelah proses pengambilan sari juga dimanfaatkan kembali sebagai bahan dasar body scrub.
Kegiatan ini menjadi bagian dari edukasi pemanfaatan tanaman herbal yang tersedia di sekitar lingkungan pesantren. Selain memperkenalkan kunyit sebagai salah satu bahan herbal, para santri juga diberikan pemahaman mengenai pentingnya mengoptimalkan bahan sisa agar tidak langsung menjadi limbah.
Sebelum kegiatan berlangsung, sebagian peserta belum mengetahui secara langsung bagaimana kunyit dapat diolah menjadi produk herbal. Karena itu, HerbalCraft dikemas secara praktik, sehingga para santri dapat mengikuti proses pengolahan mulai dari tahap awal hingga menghasilkan produk.
Dalam pembuatan jamu kunyit instan, bahan yang digunakan meliputi kunyit segar, gula, dan air. Kunyit terlebih dahulu dicuci dan dibersihkan sebelum dihaluskan. Hasil penghalusan kemudian diperas dan disaring untuk memperoleh sari kunyit.
Sari kunyit selanjutnya dimasak bersama gula menggunakan api sedang. Campuran terus diaduk hingga kandungan air menyusut dan mulai membentuk kristal. Proses pemasakan berlangsung sekitar 30–45 menit, tergantung jumlah bahan dan kondisi pemanasan.

Setelah kristal terbentuk dan cukup dingin, hasil tersebut dihaluskan hingga menjadi serbuk jamu kunyit instan.
Tak berhenti pada pembuatan jamu, ampas kunyit yang tersisa juga kembali dimanfaatkan. Ampas terlebih dahulu dikeringkan dan dihaluskan hingga memiliki tekstur lebih lembut. Selanjutnya, ampas dicampurkan dengan bahan pendukung hingga menghasilkan body scrub yang dapat digunakan sebagai lulur tubuh.
Para santri mengikuti seluruh tahapan secara langsung, mulai dari menyiapkan kunyit, mengambil sari, memasak hingga menjadi kristal, mengolahnya menjadi serbuk, hingga memanfaatkan ampas kunyit sebagai body scrub.
Kordes KKN Posko 30, Mafinnatut Tauqiyah, mengatakan kegiatan tersebut sengaja dikemas dalam bentuk praktik agar materi yang diberikan lebih mudah dipahami dan memberikan pengalaman langsung kepada para santri.
“Sebelumnya para santri belum mengetahui bagaimana proses pembuatan jamu kunyit instan maupun pemanfaatan ampasnya. Karena itu, kami mengajak mereka untuk melihat dan mencoba langsung setiap tahapannya, sehingga mereka tidak hanya mendapatkan penjelasan, tetapi juga pengalaman dalam mengolah bahan alami menjadi produk yang bermanfaat,” ujar Mafinnatut Tauqiyah.
Salah seorang santri, Robiatul Adawiyah, mengaku kegiatan tersebut menjadi pengalaman pertamanya membuat jamu kunyit instan sekaligus mengetahui pemanfaatan ampas kunyit.
“Saya baru pertama kali membuat jamu kunyit instan. Sebelumnya saya hanya mengetahui kunyit sebagai bahan jamu, tetapi belum tahu bagaimana cara mengolahnya sampai menjadi bentuk instan. Saya juga baru tahu bahwa ampas kunyit masih bisa dimanfaatkan menjadi body scrub,” ungkap Robiatul.
Hal serupa disampaikan Fina Uqailatus Dhufairoh. Ia mengaku tertarik setelah mengetahui bahwa ampas kunyit yang selama ini dianggap sebagai sisa pengolahan ternyata masih dapat dimanfaatkan.
“Awalnya saya mengira ampas kunyit hanya akan dibuang setelah diambil sarinya. Ternyata masih bisa dimanfaatkan menjadi body scrub. Dari kegiatan ini saya jadi tahu cara mengolah ampas kunyit dan mendapatkan pengalaman baru,” ungkap Fina.
Kunyit merupakan salah satu tanaman herbal yang mengandung senyawa kurkumin. Senyawa tersebut diketahui memiliki aktivitas antioksidan dan antiinflamasi. Secara tradisional, kunyit juga banyak dimanfaatkan sebagai bahan minuman herbal.
Melalui HerbalCraft, KKN Posko 30 berharap para santri dapat mengenal lebih dekat potensi tanaman herbal yang tersedia di lingkungan sekitar. Kegiatan ini juga diharapkan dapat menambah keterampilan sekaligus mendorong kreativitas dalam memanfaatkan bahan alami secara lebih optimal.
Selain menghasilkan jamu kunyit instan, pemanfaatan ampas sebagai body scrub menjadi bagian dari upaya mengenalkan prinsip pemanfaatan bahan secara menyeluruh. Dengan demikian, kegiatan HerbalCraft tidak hanya memberikan pengetahuan tentang pengolahan herbal, tetapi juga mengajarkan para santri untuk lebih kreatif dan bijak dalam memanfaatkan sumber daya di lingkungan sekitar.(*)
Penulis : Ratih
Editor : ZuhalieZ
Sumber Berita: REDAKSI WARTA9













