SUMENEP, (WARTA9) — Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Sumenep tengah mengupayakan pengakuan resmi terhadap kacang hijau kuning khas daerah yang dikenal masyarakat sebagai arta’ pottre koneng. Komoditas tersebut diusulkan menjadi plasma nutfah lokal sebagai bagian dari pelestarian kekayaan hayati asli Sumenep.
Saat ini, usulan tersebut masih berada pada tahap penelitian oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Hasil kajian itu akan menjadi dasar untuk melanjutkan proses pemurnian hingga pelepasan varietas sebelum ditetapkan sebagai varietas lokal Kabupaten Sumenep.
Kepala DKPP Sumenep, Chainur Rasyid, mengatakan seluruh tahapan tersebut harus dilalui sesuai prosedur yang berlaku.
“Masih berlangsung proses penelitiannya, setelah itu ada proses pemurnian dan pelepasan varietas. Baru ditetapkan sebagai varietas Sumenep. Mudah-mudahan tahun ini selesai,” ujarnya.
Chainur yang akrab disapa Inung menjelaskan, arta’ pottre koneng pada dasarnya merupakan jenis kacang hijau. Namun, varietas ini memiliki karakter yang membedakannya dari kacang hijau lain, terutama pada warna biji yang kuning serta bentuk dan teksturnya yang khas.
“Sama-sama kacang hijau sebenarnya, hanya saja memiliki kekhasan pada warna, bentuk, dan teksturnya. Varietas ini hanya ada di Sumenep,” ungkapnya.
Tanaman tersebut telah lama dibudidayakan petani di sejumlah wilayah, di antaranya Kecamatan Manding, Batuputih, Ambunten, Pasongsongan, dan Lenteng. Selain dipasarkan di pasar-pasar tradisional Sumenep, hasil panennya juga dipasarkan ke Surabaya.
DKPP tidak hanya memfokuskan perhatian pada arta’ pottre koneng. Saat ini, instansi tersebut juga sedang menginventarisasi berbagai tanaman lokal lainnya untuk diusulkan sebagai plasma nutfah khas Sumenep.
Beberapa komoditas yang masuk dalam pendataan meliputi pisang kepok, kacang komak, cabai jamu, tembakau Prancak CK-95, bawang merah, cengkeh Masalembu, timun, hingga cabai rawit lokal.
“Kita memiliki banyak varietas lokal,” papar Inung.
Menurutnya, pengakuan terhadap varietas asli daerah menjadi langkah penting untuk menjaga keberlanjutan sumber daya genetik sekaligus memperkuat identitas pertanian Sumenep. Di sisi lain, pengembangan komoditas lokal juga diyakini dapat meningkatkan nilai ekonomi bagi para petani.
“Ke depan, budi daya komoditas ini akan terus kita tingkatkan dan kembangkan,” tandasnya.(*)
Penulis : Ratih
Editor : Redaksi















Komentar