TOKOH, WARTA9 – Kesuksesan bukan semata tentang kerja keras, tapi juga tentang doa-doa yang menyertai. Begitulah kisah H Zainal Arifin, politisi asal Desa Tambaagung Tengah, Sumenep yang kini dipercaya sebagai Ketua DPRD Sumenep periode 2024–2029 dari PDI Perjuangan.
Di balik langkah kemenangannya, tersimpan perjalanan panjang penuh tirakat dan pengorbanan dua sosok perempuan luar biasa: ibunda tercinta, almarhumah Hj Halimatus Sa’diyah, dan sang istri, Hj Rohatin Zain.
Pada tahun 2007, saat H Zainal hendak mencalonkan diri sebagai Kepala Desa Tambaagung Tengah, Kecamatan Ambunten, terlebih dulu ia meminta restu dari sang ibunda, ayah dan istri.
Permintaan sang ibu sederhana, namun penuh makna: tunaikan ibadah haji bersama istri terlebih dahulu. Sebuah permintaan yang menjadi titik awal perjalanan spiritual dan perjuangannya.
Setelah menunaikan haji, sang ibu tidak berhenti mendampingi. Dalam diam, beliau berpuasa selama sembilan bulan, hanya berhenti di hari-hari tasyrik. Setelah setiap salat lima waktu, ibundanya membaca Al-Qur’an dan meniupkannya ke dalam air untuk diminum oleh H Zainal—sebuah bentuk cinta dan doa yang tak terhingga.
Di sisi lain, sang istri pun menunjukkan kesetiaan yang luar biasa. Ia menikah dengan sang istri, Hj Rohatin Zain pada tahun 1990. Sang istri istiqomah melaksanakan salat Tahajud, setiap malam tanpa henti, memohon pada Tuhan agar langkah suaminya dimudahkan.
Berkat kekuatan tirakat dan doa dua perempuan hebat di belakang sosok H Zainal Arifin, ia pun mendapat kepercayaan warga dan berhasil memenangkan Pilkades menjadi Kepala Desa Tambaagung Tengah menggeser petahana kala itu, H Muhdar Umar.
Ketika H Zainal melangkah lebih jauh ke dunia politik, mencalonkan diri sebagai anggota DPRD di tahun 2014, sang ibu kembali melakukan tirakat: berpuasa hampir dua tahun demi kesuksesan sang anak. Tak pernah terbersit pamrih, hanya harapan agar anaknya bisa memberi manfaat lebih luas bagi masyarakat. H Zainal pun berhasil terpilih menjadi anggota DPRD untuk periode pertamanya.
Namun, pada Pemilu 2024, langkah H Zainal harus dijalani tanpa kehadiran fisik ibunya. Beliau wafat dua tahun sebelumnya. Meski raganya tiada, H Zainal merasa restu dan doanya tetap mengiringi. Kini, satu perempuan hebat masih setia di sisinya: sang istri, yang tetap istiqomah dalam salat Tahajud, membaca Al-Qur’an, bahkan rela melaksanakan ibadah umrah seorang diri untuk mendoakan kesuksesan suaminya.
Dan doa-doa itu terjawab. H Zainal Arifin kembali terpilih sebagai anggota DPRD Sumenep, bahkan dipercaya menjadi Ketua. Di tengah sorak dan selamat, ia tak pernah lupa: bahwa semua ini adalah hasil dari kasih dan doa dua perempuan hebat dalam hidupnya.
Baginya, jabatan bukanlah soal kekuasaan. Ini adalah amanah—hasil dari cinta, tirakat, dan restu yang terus mengalir, meski satu di antaranya telah kembali ke haribaan Ilahi.








Comment